Translate

Kamis, 17 Agustus 2017

Suara Hati Seorang Wanita Muslim


Ramai perayaan hari kemerdekaan Republik Indonesia. Negara tempat aku lahir dan tumbuh. Negeri tempat aku tinggal dan melakukan segala aktivitas.

Sayangnya perayaan hanyalah seremonial belaka. Nyatanya Indonesia belum merdeka, inilah yang aku rasakan sebagai seorang wanita muslim.

Jika Indonesia sudah merdeka, tentu aku bebas mengenakan pakaian favorit, stelan gamis dan khimar warna hitam-hitam tanpa ada mata yang memandang aneh dengan apa yang aku kenakan.

Aku tak akan mendapati tatapan yang menilik penampilan dari atas hingga kebawah, lalu keatas dan kebawah lagi.

Dengan pakaianku, aku bebas melakukan aktifitas apapun termasuk menuntut ilmu. Mendatangi kajian agama tanpa rasa khawatir akan dibubarkan oleh oknum yang menyuarakan toleransi tetapi tindak tanduknya jauh dari sikap toleransi.

Jika Indonesia sudah merdeka, aku tak akan mendapat perlakuan diskriminatif dari para pelayan toko retail ternama, seakan aku adalah makhluk aneh dari belahan semesta tak dikenal.

Tidak pula mendapat perlakuan istimewa dari para penjaga keamanan mall dan gedung perkantoran yang melakukan pemeriksaan pada barang bawaanku, sedang pengunjung lain dibiarkan masuk begitu saja.


Indonesia merdeka?
Tidak!
Belum!

Indonesia terjajah oleh masyarakatnya sendiri yang mengagungkan perbedaan, Bhineka Tunggal Ika katanya. 
 
Sayang, lagi-lagi itu hanya retorika belaka.
 
Nyatanya seorang wanita mengenakan pakaian warna hitam-hitam saja  tampak menakutkan bagi kalian, namun grup band beraliran rock yang juga mengenakan pakaian hitam-hitam begitu kalian agungkan.

Nuraniku terus bertanya kapankah Indonesia merdeka?
Sungguh-sungguh merdeka, tak ada sikap diskriminatif dan tatapan curiga pada aku si wanita muslim.


***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar