Hari Pertama ....
*
Mengikuti 30 Days Writing Challenge (30DWC) merupakan keputusan nekat yang saya buat, karena kegiatan utama program ini adalah membuat karya tulis selama 30 hari non-stop. Saya bertanya pada diri saya sendiri “Bisakah?”Saya memang suka menulis, bahkan sejak tahun 2012 saya menggunakan blog sebagai sarana untuk berbagi tulisan-tulisan saya. Isi tulisan di blog saya bermacam-macam, mulai dari urusan politik sampai urusan makanan, tentang cinta sampai dunia kerja. Blog saya tidak fokus pada satu tema karena saya suka menulis apa saja.
Tidak ada jadwal pasti kapan saya memuat tulisan di blog. Saya masih menulis secara spontan. Ketika ada ide, saya akan menulis. Jika tidak, saya santai-santai saja. Namun sekarang hal ini tidak berlaku lagi karena sebagai peserta 30 DWC saya memiliki kewajiban untuk menulis setiap harinya.
Hari pertama 30DWC saya sudah bingung mau menulis apa.
Ketik .... Hapus .... Ketik .... Hapus ....
Akhirnya saya putuskan untuk minggu pertama 30DWC, saya mengambil tema cinta. Saya sengaja membuat tema tulisan untuk satu minggu agar tidak bingung mau menulis apa setiap harinya, juga untuk memudahkan diri jika sewaktu-waktu kesulitan untuk menulis karena padatnya aktifitas.
Saya mengambil tema cinta karena menurut saya tak pernah habis kata untuk ceritakan tentang cinta. Kita mendapati begitu banyak buku-buku bertemakan cinta. Inspirasi tentang cinta pun mudah didapat, bisa dari pengalam pribadi, curhatan teman, melihat posting-an di media sosial, buku-buku atau menonton film.
Tulisan saya pada hari pertama 30DWC berjudul Ceritaku.
Agita Maulani: Ceritaku
Tulisan ini terinspirasi dari kebingungan saya, hendak menulis apa di hari pertama 30 DWC?
Ketik .... Hapus .... ketik .... Hapus ....
Saya kagum pada para penulis yang dapat membuat satu cerita dengan berbagai tokoh dan karakter serta pemaparan alur yang apik.
J.K Rowling dengan tujuh buku sekuel Harry Potter. Ia bukan hanya menciptakan tokoh-tokohnya, namun menciptakan sebuah dunia baru, dunia sihir dengan segala dinamika sosial, politik dan kemasyarakatannya.
Saya pun dibuat terkesima dengan gambaran pedalaman hutan Afrika pada novel Congo karya Michael Crichton. Bahkan Crichton menggambarkan karakter Amy, seekor gorila yang menjadi salah satu tokoh pada novel ini dengan sangat baik.
Lalu bagaimana dangan saya? Jangankan untuk menulis beratus-ratus halaman seperti J.K Rowling dan Michael Crichton, menulis 100 -150 kata saja masih kebingungan, hingga akhirnya memilih menulis pada zona aman, menulis tentang cinta.
Bicara cinta melalui tulisan seperti menyampaikan pesan dari rasa yang kadang sulit untuk diucapkan.
Menulis tentang cinta sama dengan mengukir sebuah kisah menjadi kenangan yang tak lekang oleh waktu, karena kisahnya tak lagi hanya dalam ingatan tetapi tertuang dalam tulisan, kisahnya abadi dari masa ke masa.
#30DayWritingChallenge
#30DWC
#30DWCJilid5
#Day8
Tidak ada komentar:
Posting Komentar